Bau mulut, yang dalam istilah kedokteran gigi disbut halitosis,
adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan bau napas tidak sedap
atau bau mulu tak sedap yang disebabkan oleh faktor-faktor fisiologis (alamiah)
atau patologis (adanya kelainan) yang dapat berasal dari mulut atau bagian
tubuh lainnya. Bau mulut dapat memberikan dampak social dan ekonomi bagi
penderitanya, terutama yang banyak berhubungan dengan masyarakat. Halitosis
dapat menyebabkan mereka menarik diri dari pergaulan karena rasa rendah diri.
Penderita makin jarang berkomunikasi secara terbuka mengenai penyakitnya
sehingga pengobatannya tidak berkesinambungan.
Mekanisme terjadinya
bau mulut
Dalam mulut seseorang biasanya terdapat substrat protein eksogen
(sisa makanan) dan endogen (epitel mulut,saliva/air liur,darah,plak). Substrat
endogen dan eksogen tersebut akan mengalami pembusukan oleh bakteri di rongga
mulut yang akan menghasilkan gas-gas yang berbau, yaitu indole, skatole,
sulfide, merkaptan, da amin yang memegang peran utama terhadap timbulnya bau
mulut.
Penyebab Terjadinya
Bau Mulut
Faktor local yang bersifat patologis (adanya kelainan) :
1. Gigi berlubang
2. Penyakit jaringan pendukung gigi
3. Luka bekas cabutan gigi
4. Sisa akar gigi
5. Tambahan gigi yang tidak dipoles
Faktor local yang bersifat nonpatologis :
1. Gigi tiruan yang jarang dibersihkan
2. Bau mulut pada pagi hari
3. Obat-obatan yang sering digunakan pada perawatan gigi yaitu eogenol
dan kreosot
Pemberian obat-obatan :
1. Obat antikanker
2. Antihistamin
Faktor sistematik yang bersifat patologis (adanya kelainan) :
1. Diabetes mellitus yang tak terkontrol (mulut akan berbau aseton)
2. Penyakit hati taraf terminal (berbau mirip bau mayat segar)
3. Penyakit ginjal kronik (mulut akan berbau ammonia/urine)
4. Kelainan darah (mulut berbau amis)
5. Kelainan metabolism sejak lahir yang dikaitkan dengan kurangnya/tak
adanya enzim yang mengonversi trimetilamin (suatu protein yang mengandung bau
ikan) menjadi tidak berbau. Pada kelinan ini, bau mulut tak sedap seperti bau
ikan busuk.
Faktor sistematik yang bersifat nonpatologis :
1. Pemakan daging berlebih
2. Susu
3. Makanan dan minuman yang berbau seperti bawang merah, bawang outih,
petai dan jengkol
4. Orang yang lapar bau mulutnya tidak dapat dihilangkan, meskipun
dengan sikat gigi
5. Merokok
Penanggulangan bau
mulut
Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya bau mulut atau halitosis.
Namun, hampir 85% halitosis bersumber dari dalam rongga mulut. Oleh sebab itu,
perlu dilakukan tindakan awal yang bertujuan menghilangkan faktor local dalam
mulut.
Penanggulangan faktor-faktor local dalam mulut :
a. Perawatan lesi-lesi atau luka dalam mulut seperti luka bekas
pencabutan gigi
b. Perawatan penyakit-penyakit jaringan pendukung gigi terutaa jika
disertai poket yang dalam
c. Koreksi keadaan dalam mulut yang memungkinkan pengumpulan sisa
makanan seperti karies gigi (gigi berlubang), gigi yang berjejal, sisa akar
gigi, dan karang gigi
d. Penyuluhan tentang pemeliharaan protesa (gigi tiruan) yang benar
e. Menjaga kebersihan mulut dengan cara menggosok gigi dan lidah,
terutama bagian dalam, setiap kali habis makan. Cara ini dapat menyebabkan
penurunan senyawa-senyawa yang mengandung sulfur sebanyak 70%-80% dalam waktu 6
menit
f. Minumlah air putih 8-10 gelas perhari
g.Mengunyah permen karet dan mengulum permen Sumber : Majalah Kartika Kencana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar